Diaryku (114) : Makan tuh Rokok :p

Para Santri di lingkungan pesantren salaf, terus terang, identik sekali dengan rokok dan lingkungan yang kurang bersih. Maka tidak heran jika ada yang bilang bahwa santri itu kumuh dan kotor (bagi para santri yang merasa, jangan marah ya, ini salahmu sendiri). Prinsip "Annadhofatu minal iman", banyak tidak jalan di sebagian besar pesantren berbasis salaf. Apalagi WC dan kamar mandinya, A'udzu Billah.

Sebaliknya, santri yang sudah bisa mengkondisikan diri dengan gaya hidup masa kini, lingkungannya cenderung mendukung dan bersih. Jadi, pesantren berlabel modern, bisa dipastikan free dari rokok dan areanya sedap di pandang.

Aku, sebagai santri yang dalam tata cara tarbiyahnya masih salaf, namun ber-lifestyle modern, tentu saja sejak awal pendidikan, terbiasa hidup bersih dan bebas dari rokok yang memang membahayakan kesehatan (kebenaran yang jelas tapi ditolak oleh mayoritas orang pesantren, jangan-jangan masuk kategori bathorul haq, widiw).

Babaku, melarangku merokok, namun tak pernah aku dengar dari beliau keharaman rokok. Dulu selalu di awas-awas, jangan sampai merokok, dan sebagai anak yang patuh ( hueheh :p ) tentu saja aku menghindari rokok. Kadang sih sesekali mencoba karena penasaran, itu pun dari puntung yang masih menyala, dan sekali dua kali hisap, yang akhirnya membuatku terbatuk-batuk.

Lebih takut lagi setelah insiden di masa MI, saat teman-temanku yang bandel ketangkap basah oleh pak Guru sedang merokok di warung, lalu dihukum di kantor dengan menghisap rokok klobot yang biasa dikonsumsi orang tua sampai mereka klenger.

Masa belajarku saat di Malang, dan kini di Mekkah, juga mendukung kehidupan yang bebas rokok, dan area yang selalu bersih, sehingga sedap dipandang siapapun serta memberi kesan wibawa tersendiri (ciri khas bawaan tempat bersih).

Nah, pengalaman pribadiku, salah satu faktor utama yang membuatku tidak betah saat mesantren di Purworejo, adalah rokok ini. Memang ustadzku tidak merokok, dan melarang siapapun merokok di dalam kediaman beliau. Tetapi tidak di lingkungan pesantren.

So, bisa dipastikan, dari 6 kompleks yang ada, hampir semuanya kayak lokomotif, hanya bisa dihitung dengan jari beberapa saja yang tidak merokok, salah satunya adalah aku.

Kamarku sendiri, dari 17 penghuni kala itu, cuma aku berdua dengan temanku saja yang tidak merokok, selebihnya berprinsip, bahwa tidak merokok, sama dengan di tempeleng tidak membalas. Bisa digambarkan kan bagaimana kotornya udara pesantren tempatku belajar itu. Polusi berat.

Pun oleh-oleh santri yang barusan balik dari rumahnya, adalah bukan kacang, atau cemilan-cemilan lainnya, tetapi tembakau beberapa bungkus besar plus beberapa gros cigaret istimewa semacam Samsoe.

Bagi santri kere yang tak bisa menahan syahwat rokok (udah kere masih ngrokok lagi), jika pas tidak punya duit, biasanya mengumpulkan puntung-puntungnya, lalu dibuka, diambil sisa tembakaunya, dijadikan satu dalam selembar kertas khusus rokok, kemudian disulut untuk dinikmati. Istilahnya adalah rokok merk "Tirwe", ngglintir dewe :D

Kalau di rumah, ada santri ketangkap merokok, maka tentu langsung diadili Babaku dengan ancaman dipulangkan jika masih mengulang lagi perbuatannya.

Beberapa tahun lalu, sempat muncul fatwa menggegerkan soal keharaman rokok, yang menimbulkan pro dan kontra luar biasa. Alhasil, MUI babak belur. Sangat sayang memang jika kredibilitas ulama semakin jatuh sebab gara-gara hal yang masyarakat jadi ikut-ikutan mengkritik karena terbawa emosi dan provokasi.

Memang sih tujuan MUI itu sangat bagus, lagipula demi kesehatan bangsa. Sebagaimana diketahui, bangsa yang maju adalah bangsa yang mempraktekkan gaya hidup sehat dan bersih. Ironisnya, sebagian besar masyarakat kita menolak hanya karena takut kehilangan sumber rizki (lagi-lagi karena kurangnya pemahaman Siapa Pemberi rizki).

Aku pribadi, bukan mengkritik kebijakan fatwa itu, tetapi menurutku (yang sangat kurang ilmu dan keadaan negeri) alangkah bijaknya jika tidak mengeluarkan fatwa itu, sebab permasalahan rokok sudah dibahas beratus-ratus tahun yang lalu oleh ulama'-ulama' dari berbagai madzhab dengan jawaban beragam.

Ada baiknya jika dalam hal ini, melarang rokok, meniru kebijakan dan cara pemerintah saudi arabia. Sejak awal, propaganda bahaya rokok yang gencar mereka gelar, sama sekali tak membawa-bawa nama syariat. Tetapi murni kesehatan. Tidak membawa dalil segala macam.

Juga dibuktikan di lapangan dengan membrifing serta menyisir toko-toko yang menjual rokok secara bebas. Baliho-baliho besar di manapun terpampang, bahkan di jalan-jalan utama Masjidil Haram, itupun dengan ajakan membersihkan tanah suci dari asap rokok.

Dan terbukti usaha ini sukses besar tanpa ada kritikan apalagi cemoohan dari masyarakat. Semua mendukung, baik yang perokok ataupun tidak. Dan memang jualan rokok masih ada, tapi sembunyi-sembunyi.

Nah, langkah bijak seperti ini yang perlu dicontoh. Biar tidak membuat orang menghujat ulama' yang justru secara tidak sadar bisa menurunkan mara bahaya dan bala' bagi mereka sebab menghina orang yang mengemban ilmu.

Karena menyedihkannya, orang sekarang justru semakin menantang jika ada hal yang "diharamkan" (pantes banyak bencana datang, nantang Pencipta sih, itu saja masih mangkir dengan bilang bahwa bencana itu hanya fenomena alam).

Pada akhirnya, aku pribadi tidak suka merokok, benci dengan rokok, namun aku tidak mengharamkan rokok. So, mengertilah tempat, itu saja nasehatku bagi perokok, biar tidak mengganggu orang.

Dan bagi penuntut ilmu, sangat tidak patut lah merokok, dengan alasan apapun, apalagi yang masih bidayatul tholab (awal belajar). Kalian semua tahu, bahwa bau-bau yang tidak sedap, membuat malaikat menyingkir. Darimana kalian dapat barokah dan cahaya ilmu, cahaya ngaji, jika kalian mengusir malaikat dengan rokok kalian? Mikir Kang. Biar sekali-kali jalan ngaji fiqihnya soal bab makruh yang selalu diberi contoh rokok.

So, kelak jika aku mendirikan tempat belajar, mendidik, insyaallah, maka anak-anak didikku aku larang merokok. Sesuatu yang aku tiru dari orang tua dan Guruku. Juga demi kesehatan mereka.

Akhir catatan, tiap aku ditanya apakah benar merokok itu membahayakan kesehatan? Maka aku jawab, yang jelas membahayakan adalah yang makan rokok, sebab orang ini sudah edan :D