Hubunganku dengan teman-teman semasa SMP-ku, boleh dikata seperti saudara. Kami sangat kompak dan selalu memberi kabar, sampai saat ini. Kabar di mana mereka berada, kabar menikah, kabar punya anak, dan lain sebagainya.
Umumnya sih orang akan lebih berkesan dengan persahabatan di masa SMA atau kuliah mereka (atau masa pesantren), tetapi kami berbeda. Berpisah di manapun (sejak menerima ijazah kelulusan pada 1998) ternyata yang tetap dikenang, adalah masa-masa SMP.
Beberapa sahabatku bilang, "wy, meski sekarang aku tinggal di kota, banyak teman, tetapi ternyata nostalgia terindah adalah tetap masa persahabatan SMP kita". Tak terkecuali aku.
Karena itu juga, setiap hari raya, saat semuanya mudik, kami menyempatkan diri untuk reuni, berkumpul-kumpul, anjang sana dengan sahabat-sahabat lama, dan jalan-jalan bersama ke tempat wisata beramai-ramai. Sepeda motoran bareng-bareng, atau nyewa mobil.
Teringat satu momen, saat aku hendak ke Makkah, sebagian dari kami bertemu dan berkumpul di sekolah lama kami dulu. Bercanda sampai larut malam bercerita masa lalu, saat itu aku nyeletuk, "Nanti, yang menikah paling akhir di antara kita ini, adalah aku", sebelum tawa kami meledak berderai-derai.
Dan dalam kenyataan, saat ini, dari seluruh sahabat sekelas, hanya tinggal 3 orang yang belum menikah, salah satunya aku. Yang lain, sudah pada gendong anak, huhuhu. Bahagia juga sih tiap mendapat SMS kabar kelahiran anak-anak teman-teman SMP-ku, dan ikut urun memberi nama, meski aku juga iri pengen punya anak :D
Yang lucu adalah, pertanyaan yang kerap sama dari teman-teman SMP-ku, "Wy, cewekmu sekarang orang mana?" widiw :D
Pertanyaan yang sangat seram, atau kadang gini, "Sudah berapa cewek yang kau buat patah hati Wy?" hadewh :D
Sebelumnya, ini bukannya GR atau apa, sebab aku juga tahu diriku yang secara fisik memang nggak ada macho-machonya sama sekali (heee...), tetapi teman-teman SMP-ku tahu betul, bahwa sejak dulu, dan ini catatan khusus dalam diaryku, aku selalu menarik perhatian cewek tanpa aku harus TePe atau PeDeKaTe ! Nah.. :D
Kadang aku heran, apa ya yang ada di benak mereka, aku ini orangnya kurus, kecil, tidak tampan, tidak pintar meski nggak bloon-bloon amat, apa nggak sakit mata tuh mbak-mbak sehingga menaruh hatinya dalam bilik hatiku (hueee :D)
Ada teman bilang, kamu itu magnet wy, punya daya tarik. Dalam benakku, apa lantas aku anaknya Pak Ustadz? Pasti deh beda jika mereka tahu aku orang biasa (tapi di dunia maya pun tak banyak yang tahu siapa ortuku)
Ala kulli hal (eniwei) pertanyaan yang selalu membuatku tersenyum adalah, "Wy, kapan kamu menikah?" Nah, ini yang aku tidak bisa menjawab kapannya. Ntar setelah pulang, itu jawabku. Pulangmu kapan? Nah itu dia yang aku belum tahu.
Pada akhirnya, gara-gara ini juga, aku punya pandangan berbeda soal perjodohan yang selama ini kerap berlaku di dunia pesantren. Yaitu dijodoh-jodohkan antar pesantren. Aku pribadi, memilih berbeda. Ora usum (nggak berlaku lagi), itu yang aku bilangkan pada ortu, dan mereka mendukung.
So, soal jodoh, aku jalan apa adanya. Prinsip pribadiku, selama tanganku belum bersalaman dengan penghulu, atau wali istriku kelak, belum mengucapkan "Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha bil mahril madzkur", maka apapun usahanya, tetaplah belum jodoh.
Jadi, meski diikat, dijodohkan, disukai, dipedekatein, oke, aku monggo-monggo saja, jodoh tidaknya ditentukan oleh akad itu. Kalau jadi akad ya jodoh, nggak jadi ya belum jodoh.
Lah, apa tidak membuat hati orang lain sakit? Apalagi kalau mengharap dan keluarganya sudah tahu semua. Itu sudah resiko, selalu itu jawabanku. Terus mau apa lagi? Iya kalau jalan kehidupan ada di tanganku, wong semua sudah ada yang mengatur.
Anggap lah ini ikhtiar jodoh, itu selalu yang terlintas di benakku. Jadi kalau gagal (dan sudah pernah, huehehe) ya minta maaf. Mau apa lagi? Nggak ridho dengan takdir? Malah dosa sendiri, bener nggak?
Boleh dikata, dalam masalah ini aku ekstrem sekali, dan aku yakin dinilai egois, namun hal ini muncul dari pemahaman bahwa jodoh ada yang Mengatur (buktinya, kita tak bisa menentukan, bisanya mengusahakan).
Heee... Ngelantur deh jadinya. Alhasil, kalau sudah datang yang cocok, ortu setuju, jadi deh. Soalnya acc ortu juga penting, walau mereka memberi kebebasan memilih. Istilah temanku, pulang, nyari jodoh, nemu, beri tahu ortu, mereka nggak setuju, ya dibatalin, nyari lagi, gitu aja kok repot.
Bukan berarti ini lantas aku suka memainkan perasaan wanita, memberi harapan, dan seterusnya lho, tidak, sama sekali, dosa mainin anaknya orang. Tetapi sering aku ajarkan pada mereka yang menaruh hati padaku, untuk belajar memahami takdir itu sendiri. Walau dalam kenyataan yang terjadi, kerap kali terjadi konflik sebab tidak bisa memahami apa yang aku maksud. Dan aku? Tak pernah sekalipun marah dalam hal ini, aku salah, ya maafkan kesalahanku. Ada yang lebih dari itu?
Bagiku pribadi, hidup itu seperti air, mengalir, atau angin, bertiup. Jadi selama ini nasehat Babaku soal jodoh adalah, mintalah selalu pada Allah istri yang shalehah, yang bisa membantumu, jangan menentukan nama, harus fulanah binti fulan, atau illanah binti illan.. Tapi mintalah secara umum, ini bentuk tawakkal.
Pada akhirnya, kadang kalau dipikir, ketawakkalan pada saat-saat tertentu, bisa dianggap orang lain sebagai sebuah keegoisan. Lagi-lagi kembali ke masalah hati. Bahwa mengaturnya, dalam bentuk apapun, membutuhkan ketangguhan managemen agar tidak mengalami kebocoran. Termasuk masalah yang sangat sensitif sekali ini, perjodohan dan ikhtiarnya. Wallahu a'lam.
Umumnya sih orang akan lebih berkesan dengan persahabatan di masa SMA atau kuliah mereka (atau masa pesantren), tetapi kami berbeda. Berpisah di manapun (sejak menerima ijazah kelulusan pada 1998) ternyata yang tetap dikenang, adalah masa-masa SMP.
Beberapa sahabatku bilang, "wy, meski sekarang aku tinggal di kota, banyak teman, tetapi ternyata nostalgia terindah adalah tetap masa persahabatan SMP kita". Tak terkecuali aku.
Karena itu juga, setiap hari raya, saat semuanya mudik, kami menyempatkan diri untuk reuni, berkumpul-kumpul, anjang sana dengan sahabat-sahabat lama, dan jalan-jalan bersama ke tempat wisata beramai-ramai. Sepeda motoran bareng-bareng, atau nyewa mobil.
Teringat satu momen, saat aku hendak ke Makkah, sebagian dari kami bertemu dan berkumpul di sekolah lama kami dulu. Bercanda sampai larut malam bercerita masa lalu, saat itu aku nyeletuk, "Nanti, yang menikah paling akhir di antara kita ini, adalah aku", sebelum tawa kami meledak berderai-derai.
Dan dalam kenyataan, saat ini, dari seluruh sahabat sekelas, hanya tinggal 3 orang yang belum menikah, salah satunya aku. Yang lain, sudah pada gendong anak, huhuhu. Bahagia juga sih tiap mendapat SMS kabar kelahiran anak-anak teman-teman SMP-ku, dan ikut urun memberi nama, meski aku juga iri pengen punya anak :D
Yang lucu adalah, pertanyaan yang kerap sama dari teman-teman SMP-ku, "Wy, cewekmu sekarang orang mana?" widiw :D
Pertanyaan yang sangat seram, atau kadang gini, "Sudah berapa cewek yang kau buat patah hati Wy?" hadewh :D
Sebelumnya, ini bukannya GR atau apa, sebab aku juga tahu diriku yang secara fisik memang nggak ada macho-machonya sama sekali (heee...), tetapi teman-teman SMP-ku tahu betul, bahwa sejak dulu, dan ini catatan khusus dalam diaryku, aku selalu menarik perhatian cewek tanpa aku harus TePe atau PeDeKaTe ! Nah.. :D
Kadang aku heran, apa ya yang ada di benak mereka, aku ini orangnya kurus, kecil, tidak tampan, tidak pintar meski nggak bloon-bloon amat, apa nggak sakit mata tuh mbak-mbak sehingga menaruh hatinya dalam bilik hatiku (hueee :D)
Ada teman bilang, kamu itu magnet wy, punya daya tarik. Dalam benakku, apa lantas aku anaknya Pak Ustadz? Pasti deh beda jika mereka tahu aku orang biasa (tapi di dunia maya pun tak banyak yang tahu siapa ortuku)
Ala kulli hal (eniwei) pertanyaan yang selalu membuatku tersenyum adalah, "Wy, kapan kamu menikah?" Nah, ini yang aku tidak bisa menjawab kapannya. Ntar setelah pulang, itu jawabku. Pulangmu kapan? Nah itu dia yang aku belum tahu.
Pada akhirnya, gara-gara ini juga, aku punya pandangan berbeda soal perjodohan yang selama ini kerap berlaku di dunia pesantren. Yaitu dijodoh-jodohkan antar pesantren. Aku pribadi, memilih berbeda. Ora usum (nggak berlaku lagi), itu yang aku bilangkan pada ortu, dan mereka mendukung.
So, soal jodoh, aku jalan apa adanya. Prinsip pribadiku, selama tanganku belum bersalaman dengan penghulu, atau wali istriku kelak, belum mengucapkan "Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha bil mahril madzkur", maka apapun usahanya, tetaplah belum jodoh.
Jadi, meski diikat, dijodohkan, disukai, dipedekatein, oke, aku monggo-monggo saja, jodoh tidaknya ditentukan oleh akad itu. Kalau jadi akad ya jodoh, nggak jadi ya belum jodoh.
Lah, apa tidak membuat hati orang lain sakit? Apalagi kalau mengharap dan keluarganya sudah tahu semua. Itu sudah resiko, selalu itu jawabanku. Terus mau apa lagi? Iya kalau jalan kehidupan ada di tanganku, wong semua sudah ada yang mengatur.
Anggap lah ini ikhtiar jodoh, itu selalu yang terlintas di benakku. Jadi kalau gagal (dan sudah pernah, huehehe) ya minta maaf. Mau apa lagi? Nggak ridho dengan takdir? Malah dosa sendiri, bener nggak?
Boleh dikata, dalam masalah ini aku ekstrem sekali, dan aku yakin dinilai egois, namun hal ini muncul dari pemahaman bahwa jodoh ada yang Mengatur (buktinya, kita tak bisa menentukan, bisanya mengusahakan).
Heee... Ngelantur deh jadinya. Alhasil, kalau sudah datang yang cocok, ortu setuju, jadi deh. Soalnya acc ortu juga penting, walau mereka memberi kebebasan memilih. Istilah temanku, pulang, nyari jodoh, nemu, beri tahu ortu, mereka nggak setuju, ya dibatalin, nyari lagi, gitu aja kok repot.
Bukan berarti ini lantas aku suka memainkan perasaan wanita, memberi harapan, dan seterusnya lho, tidak, sama sekali, dosa mainin anaknya orang. Tetapi sering aku ajarkan pada mereka yang menaruh hati padaku, untuk belajar memahami takdir itu sendiri. Walau dalam kenyataan yang terjadi, kerap kali terjadi konflik sebab tidak bisa memahami apa yang aku maksud. Dan aku? Tak pernah sekalipun marah dalam hal ini, aku salah, ya maafkan kesalahanku. Ada yang lebih dari itu?
Bagiku pribadi, hidup itu seperti air, mengalir, atau angin, bertiup. Jadi selama ini nasehat Babaku soal jodoh adalah, mintalah selalu pada Allah istri yang shalehah, yang bisa membantumu, jangan menentukan nama, harus fulanah binti fulan, atau illanah binti illan.. Tapi mintalah secara umum, ini bentuk tawakkal.
Pada akhirnya, kadang kalau dipikir, ketawakkalan pada saat-saat tertentu, bisa dianggap orang lain sebagai sebuah keegoisan. Lagi-lagi kembali ke masalah hati. Bahwa mengaturnya, dalam bentuk apapun, membutuhkan ketangguhan managemen agar tidak mengalami kebocoran. Termasuk masalah yang sangat sensitif sekali ini, perjodohan dan ikhtiarnya. Wallahu a'lam.