Diaryku (108) : WALAU BANJIR, TETAP NGAJI

Pada tahun 1994, desaku, Parengan, pernah mengalami bencana banjir besar yang menenggelamkan seluruh desa. Tinggi air bukan hanya sekedar sebetis, sedada, atau setinggi orang dewasa, tetapi setinggi atap rumah. Jadi mau tak mau, seluruh penduduk desa harus mengungsi meninggalkan rumahnya.


Satu-satunya bangunan bertingkat di desa kala itu, dan itupun dalam tahap pembangunan, serta baru bagian depan saja, adalah masjid jami' desa yang kebetulan satu kompleks dengan pesantren yang dikelola babaku.


Jadi, ketika seluruh penduduk desa mengungsi ke tanggul yang dibangun sejak zaman belanda, atau mengungsi ke desa lain. Maka keluargaku beserta seluruh santri (saat itu masih ada beberapa puluh orang saja) mengungsi ke atas masjid.


Waktu itu sebenarnya sehabis hari raya idul fitri, dan tepat saat masuknya para santri dari liburan panjang. Hanya berselang dua hari saja tiba-tiba Parengan kena musibah banjir. Akhirnya, seluruh santri putri diliburkan dan dipulangkan, tetapi santri putra tidak. Mereka lebih memilih bertahan dan malah yang belum balik, ketika mendengar pesantrennya tenggelam, bergegas balik hari itu juga.


Modusnya kayaknya satu, santri putra yang kebanyakan dari luar Lamongan itu, bergegas balik sebab ingin tahu kayak apa rupanya banjir, byuh :D


Namun tentu saja sekaligus menjadi sukarelawan, dan menemani Babaku, apalagi ketika mereka tahu saat Baba memutuskan mengungsikan aku, adik-adikku, umiku, dan nenekku ke luar kota, dan beliau tetap bertahan di Parengan seorang diri.


Yang pasti aku ke Malang. Dan satu bulan setelah itu, aku balik lagi ketika air telah surut, namun semuanya masih di pengungsian. Dan saat datang, yang kulihat adalah, Babaku ternyata masih tetap membuka majlis pengajian seperti biasa dengan santri-santrinya.


Banjir, bolehlah, tapi tak ada kata libur untuk ilmu, meski tempatnya amburadul tidak karuan. Dan tiap usai ngaji, beliau membagi bantuan bencana yang diterima pada para santrinya, entah itu mie instan atau apa saja.


Yang pasti kulihat, keakraban Babaku dengan murid-muridnya yang lain dari biasanya, seperti ada ikatan emosional lebih kali ini. Mengingat mereka sebenarnya "menjaga" desaku yang tenggelam dengan tetap membuka majlis di tengah bencana. Posisi masjid, tepat berada di tengah desa, yang berarti saat banjir, dan desaku menjadi danau, ia berada di tengah-tengah.


Tentu saja penduduk desa tahu bahwa Ustadz mereka, Ustadz Ali, beserta seluruh santrinya, berada terpencil sendirian di masjid, dan tentu saja mereka rutin mengirim bantuan yang tersalurkan pada Baba melalui perahu-perahu kecil.


Dan saat aku di Malang, kala melihat tivi, tanpa sengaja dan kebetulan saja aku melihat RCTI yang sedang meliput peristiwa banjir itu dan tim RCTI sampai ke masjid mewawancarai Babaku.


Ada beberapa pelajaran besar yang bisa kupetik secara pribadi dari peristiwa 17 tahun lalu itu, kala usiaku masih 11 tahun. Dan bagaimana sikap Babaku yang "tidak mau" meninggalkan pesantrennya, dan masjid, yang selama ini menjadi sentra dakwah beliau.


Aku yakin bukannya beliau tidak mau mengungsi, tetapi ada rasa tanggungjawab terhadap aset dakwah sekaligus lingkungan tempat beliau berada. Tak mungkin beliau memikirkan diri sendiri, masjid juga harus diperhatikan, mengharap penduduk desa tidak mungkin sebab mereka juga sibuk menyelamatkan keluarga masing-masing.


Mungkin beliau berpikir, desa ini jangan sampai terputus dari Madad Ilahi (uluran cahaya Tuhan) meski terkena bencana dan jangan sampai terputus dari ilmu dan berkah ilmu. Justru saat seperti inilah situasi ini diperlukan.


Meski saat banjir melanda, yang sangat beliau khawatirkan, dan benda pertama yang diungsikan para santri, adalah kitab-kitab beliau. Bagi beliau, harta termahalnya adalah perpustakaan beliau itu, karena ia adalah senjata utama dakwah beliau. Satu lagi pelajaran besar, bagaimana menghargai ilmu.


Lain dari itu, tak ada istilah libur. Aku sangat ingat sekali bagaimana nasehat pribadi babaku padaku, "Alawy, tidak ada kata libur dalam mengajar, meski satu orang saja dan dia datang minta belajar, maka ajar dia". Walaupun pas hari raya? Tanyaku balik, "Walaupun hari raya,".


Dan memang, tidak sekedar bicara, beliau mempraktekkan. Aku masih ingat, di tengah pengungsian itu, beliau membuka majlis di tiga waktu, pagi, habis dhuhur, dan sore. Sebagian penduduk yang tahu, rela berperahu menuju masjid untuk mengikuti pengajian babaku, terutama murid-murid beliau yang penduduk asli desa.


Dan seingatku, sehabis usai kajian, untuk hiburan, bersama para santrinya, beliau berdendang melantunkan burdah dan nasyid-nasyid lainnya, tentu dengan tetabuhan khas santri, memecah kesunyian yang membekap Parengan.


Jadi ingat, kata orang-orang, seperti mau kiamat, sebab satu bulan sama sekali tak terdengar suara adzan dari masjid kampung kami.



Pada akhirnya, sebuah catatan kehidupan, bahwa apapun keadaannya, menuntut ilmu, menyebarkannya, adalah sebuah keharusan. Profesi asli dan teragung yang diemban para Nabi itu, pada aslinya, tidak pernah mengenal istilah libur, dan pengkurikuluman.