Diaryku (103) : HIKAYAT TELUR CEPLOK :D

Soal makanan cepat saji (maksudnya bukan fastfood yang kayak hamburger dan saudara-saudaranya, tapi yang kita tinggal makan doang, nggak usah masak :D), di antara menu favorit bagiku adalah, nasi putih, telor ceplok, dengan kecap saja.


Dulu waktu masih di rumah, jika tergesa atau yang penting makan, asal perut tidak kosong, maka aku selalu memilih menu ini.


Atau jika lagi tidak nafsu dengan hidangan yang ada, maka lagi-lagi Telor Ceplok mata sapi adalah menu favorit, di samping proses masaknya yang sangat mudah, cuma telor digoreng dibubuhi sedikit garam. Setelah itu maemnya ditemeni kecap. Fyuh, udah lupa deh dunia seisinya, bahkan bisa jadi kalau udah punya istri, lupa istri juga :-D


Akan tetapi, yah karena kebetulan orang tua punya pesantren, dan ada beberapa mbak-mbak yang berkhidmah khusus di dapur untuk keluarga, sering sekali muncul kebiasaan burukku, yaitu main perintah pada mereka untuk membuatkan aku menu yang aku sukai di waktu yang tidak tepat, saat mereka sedang jam aktif belajar, bukan waktu sedang di dapur. Nggak mandiri deh alhasil.


Hal ini, diam-diam diperhatikan Babaku. Memang beliau tidak menegurku secara langsung, dengan menyuruhku untuk menggoreng telor ceplok sendiri, tapi kerap beliau menghentikan kebiasaan burukku dengan sindiran kala sedang kajian umum.


"Rasulullah itu segala kebutuhan pribadinya, selalu diselesaikan sendiri. Memerah susu kambing dengan tangan sendiri, menambal baju sendiri, menisik terompahnya yang robek sendiri. Nggak ada ceritanya Rasulullah minta dibuatin telor ceplok," Gedubrak :D hayyah, mana ada telor ceplok di zaman Nabi? Yang pasti perkataan nyeletuk beliau itu sudah cukup membuat telingaku serasa panas mendadak. Sebab yang ditembak dengan sangat pasti adalah aku, walau beliau tidak menyebut namaku.


Ya tentu saja setelah itu aku tak mudah main perintah lagi, paling-paling nitip ketika waktu masak. Atau goreng telor sendiri. Perasaan jadi nggak enak :D


Namun dari sini, aku pribadi mampu belajar banyak hal, bahwa segala sesuatu yang kita hasilkan dengan tangan sendiri, dengan keringat sendiri, dengan jerih payah sendiri, itu selalu ada kepuasan luar biasa saat menikmatinya.


Berbeda sekali kala aku tinggal menikmati telor ceplok yang sudah jadi, dengan saat aku mengolahnya sendiri, mulai dari mengolahnya, sampai proses menikmatinya. Walau kadang-kadang karena sangat culunnya, nggak bisa membedakan antara minyak yang sudah panas atau belum, sehingga ketika telor dimasukkan, telornya nggak mekar :D


Tidak tergantungan kepada orang lain, adalah salah satu hal terpenting dalam hidup. Kemandirian adalah sebuah tuntutan yang kerap kali diingatkan oleh syariat. Memang kita adalah makhluk sosial, butuh pada orang lain, akan tetapi bukan tergantung dengan orang lain, terutama masalah-masalah bersifat pribadi. Beda jauh antara butuh dan tergantung, ini yang harus kita fahami.


Kemampuan seseorang untuk tidak bergantung pada orang lain, akan mengantarkannya pada sebuah proses pendewasaan yang mengantarkannya pula untuk memiliki ketenangan berpikir dan pada selanjutnya mendorongnya untuk produktif. Apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku hasilkan, apa yang harus aku berikan buat kehidupan.


I'timad alan Nafs.. Bergantung pada diri sendiri, salah satu daripada asas bagi orang yang ingin produktif. Dan tentu saja, ketergantungan pada diri sendiri ini, di saat yang sama, harus disambungkan langsung pada ketergantungan makhluk terhadap Penciptanya.


Sebab tidak mungkin makhluk tidak membutuhkan Penciptanya. I'timad Alallah selalu berbanding lurus dengan tawakkal. Dan itu adalah hal yang sangat naluriah sekali.


Maka jika seseorang mampu tidak bergantung pada makhluk, dan pada saat yang sama mengembalikan ketergantungannya pada Allah, maka saat itu juga dia bisa menjalankan fungsi utamanya sebagai makhluk yang mendapat tugas utama yaitu ... Beribadah.


Jangan bayangkan lho bahwa ibadah itu cuma sholat, puasa, dzikir, sedekah doang. Ketiadaan ketergantungan pada makhluk dan ketergantungan mutlak pada Kholiq, pada Allah Ta'ala, adalah inti ibadah, penghambaan itu sendiri.



Pada akhirnya, sekali lagi, jika kita perhatian, banyak sekali hal-hal sederhana yang kita alami sehari-hari, mempunyai sisi pembelajaran kehidupan teramat besar dan teramat berharga sekali. Hanya sayang, mata hati kita sering mengalami rabun senja. Wallahu A'lam.