Diaryku (99) : RANGKING I SEPANJANG MASA :D

Catatan kali ini, harus kumulai dengan kenarsisan.. :D


Waktu masih masa sekolah formal dulu, untuk soal prestasi akademis, alhamdulillah aku selalu meraih bintang kelas, dan bintang pelajar di akhir tahun periode pendidikan dan menjelang awal kenaikan. Saat ebtanas pun (kalau sekarang, UAN) nilaiku tertinggi di antara seluruh teman seangkatan.


Begitu pula saat masih di pesantren, aku pribadi tidak pernah merasakan berada di bawah siapapun di antara rekan sejawatku (dan untuk saat ini di Makkah, atas anugerah Allah, aku berada di tiga besar pelajar dengan tingkat kesalahan gramatikal terminim membaca kitab arab sekaligus yang mempunyai kemampuan membaca manuskrip-manuskrip kuno dari beberapa abad yang lampau)


Hehe, narsis sedikit...


Dulu, jika ditanya, Wy, bagaimana resepnya, apa rahasianya kamu selalu rangking satu? Aku selalu bingung untuk menjawab, sebab jika menjawab rajin belajar, maka aku bukan tipe itu. Terus terang, sewaktu masih sekolah dulu, aku hampir tidak pernah belajar malam, ikut sinau kelompok dan sebagainya. Paling-paling belajar hanya pas ujian saja, PR pun sering aku garap di sekolah satu jam sebelum masuk dengan tergopoh-gopoh.


Melihat jadwal pelajaran pun sejenak sebelum berangkat. Jadi sampai pernah kelupaan, buku pelajaran yang aku bawa, adalah buku pelajaran kemarin !


Pulang sekolah, tas kulempar ke meja belajar dan aku segera keluar main. Pulang langsung ngaji diniyah, itupun buku ngaji diniyah kutitipkan di masjid. Boro-boro nengok.


Jangan-jangan bantuan guru, kan kamu anaknya Ustadz. Memang sempat ada tuduhan itu, tetapi semuanya mampu kupatahkan dengan pembuktian bahwa di setiap pertanyaan dan soal atau ulangan mendadak, aku hampir tidak melakukan kesalahan, kujawab tepat dan cepat.


Lalu apa? Setelah dewasa dan kurenungkan, aku yakin sekali bahwa rahasianya adalah doa. Ya, doa, benar.


Sejak kecil, malah sejak balita, aku sudah didekte menghafal doa-doa pendek dan untuk selanjutnya terus kubaca setiap hari. Waktu mulai masuk sekolah, oleh Babaku, aku dibiasakan membaca Asma'ul Husna, 99 nama Allah, baca doa cari ilmu setiap menjelang berangkat ke sekolah.


Aku sangat yakin, dari seluruh sahabat seangkatanku, tak ada yang baca doa saat mau berangkat sekolah.


Jadi, sambil memakai kaos kaki, mengikat tali sepatu, sejak kelas 2 sekolah dasar, aku selalu merapal Asma'ul Husna, doa Asma'ul Husna sendiri, dan doa mencari ilmu. Kemudian aku masuk rumah, mencium tangan Umiku dan Babaku sekaligus minta duit, uang saku :D


Aku sangat yakin sekali, dari kebiasaan ini, akhirnya tanpa sadar dan tanpa aku tahu, ilmu-ilmu dan rahasia-rahasia itu banyak mengendap di hati tanpa pernah diketahui siapapun.


Usai sekolah pun, kebiasaan itu kulanjutkan, dan tentu saja dengan tambahan jam doa dan wirid sendiri.


Terus terang, sewaktu lulus SMP, pada tahun 1998, dan mulai tertarik belajar di pondok, aku sama sekali tidaj bisa baca aksara Arab tak berharakat, kecuali al-Qur'an saja. Bahkan aku masih sangat ingat, sewaktu menimang salah satu kitab kuning sambil bergumam dalam hati, apa ya aku bisa baca ini?


Tapi Subhanallah, sekali lagi kekuatan doa membantuku. Benar, jika kata rahasia yang tersimpan, sebenarnya adalah doa. Dan doa, tidak cuma cukup sekali dua kali saja. Permintaan proposal ilahi itu harus dilangsungkan terus menerus.


Dan jika kita sudah terbiasa doa, maka suatu saat, permintaan apapun, meski cuma diajukan sekali saja, pasti langsung dikabulkan Allah Ta'ala, tentu saja atas izin-Nya.. Insyaallah.


Jadi kesimpulan? Biasakan diri kita selalu untuk berdoa, dan biasakan anggota keluarga kita sejak kecil (terutama anak-anak dan adik-adik kita) untuk dituntun, diingatkan merapalkan doa. Sebab doa adalah senjata terampuh orang mu'min. Karena jika sudah jadi kebiasaan, maka secara otomatis sampai tua sekalipun dia akan selalu memanjatkan doa, terutama di saat-saat genting.


Sangat penting sekali menanamkan ketergantungan pada Sang Pencipta sejak anak masih hanya bisa tahu bau ibunya saja. Sejak jauh sebelum anak itu masuk usia sekolah.


Percayalah kata-kataku, is'al Mujarrib.. :-)