Catatan ini, kutulis setelah aku melihat salah satu rekan sekamarku yang kini sedang tergolek sakit. Tiba-tiba aku teringat jika pernah mengalami hal yang sama beberapa tahun silam, di Makkah juga. Semoga Allah Memberinya kesembuhan, amin.
Masalahnya, adalah bukan sakitnya, tetapi di mana tempat dia sedang sakit saat ini. Di Pondok.
Nasehat singkat dari pengalaman kehidupan, aku sarankan sebaiknya jika kita saat ini sedang berada di Pesantren, di asrama, atau di kost, dan yang pasti di tempat yang jauh dari keluarga dan orang tua, adalah jaga kesehatan baik-baik.
Karena, sakit di Pondok itu, nggak enak. Nggak ada yang total merawat, nggak ada yang total membantu, kecuali hal yang perlu-perlu saja, tidak ada yang memperhatikan sepanjang waktu. Kecuali jika memang punya keluarga, kalau sendirian? Meski punya sahabat terbaik sekalipun, belum tentu bisa maksimal, apalagi jika terikat dengan peraturan dan kegiatan sehari-hari.
Apalagi kalau sakitnya "cuma" pusing, meriang, mencret, ngapa-ngapain mesti masih harus diurus sendiri. Berbeda sekali jika sakit di rumah.
Makanya, anak pondok, kalau sakit, sedikit saja, pasti ingin pulang (kecuali yang berhati sangat besar). Itu pun saat Izin masih sempat-sempatnya digoda Pengurus atau Pengasuh Pesantren.
"Ustadz, izin pulang,"
"Kenapa pulang?"
"Sakit, Ustadz,"
"Lhoh, sakit kok bisa pulang. Kalau sakit ya semestinya malah di pondok, sakit kan nggak bisa kemana-mana," Nah, kan :D Logis sekali.
Karena biasanya (ini ajaibnya), saat seorang santri yang sakit, lalu izin pulang dan diberi, sakitnya langsung sembuh ! Semangat sekali pokoknya kalau pulang. :D
Jadi kadang didiagnosa amatiran sendiri sama santri yang lain, bahwa jika ada santri yang sakit, pasti karena kangen rumah. Yang sakit beneran, ada juga yang tidak akan izin pulang, sampai terkadang dijemput orang tuanya untuk diambil pulang, berobat (tenanan iki mondok-e :D)
Sebenarnya ada beberapa pelajaran penting yang bisa direnungi dari sakit, apalagi saat sakit sedang berada jauh dari orang tua dan keluarga.
Kesabaran melewati keadaan "kritis" seperti ini, akan memberikan ketenangan bersikap di masa depan.
Saat kita mampu untuk tidak mengeluh ketika sakit, ada rasa legawa serta ridho pada Allah dengan ujian-Nya, dan bisa tersenyum dalam keadaan itu, justru rasa tenang yang akan kita peroleh, dan diam-diam mempercepat proses kesembuhan. Tentu saja hal ini tidak menafikan berobat.
Karena, semakin mengeluh, bisa semakin sakit. Bukankah dalam ilmu psikologi bahwa kegembiraan dan harapan itu mampu membantu proses penyembuhan kan? Rugi sebenarnya kalau keseringan mengeluh. Udah nggak sabar, nggak dapat pahala, masih tambah sakit lagi.
Sebab seorang Mu'min, jika dia sedang dicoba dengan sakit, maka oleh Allah dijamin dua hal. Kenaikan derajat, atau penghapusan dosa, tetapi dengan catatan bisa sabar atas ujian sakit itu.
Dalam dunia kewalian (bagi yang percaya saja), banyak cerita-cerita seperti ini. Salah satunya adalah cerita terkenal Al-Habib Abdullah bin Alawy Al-Haddad, beliau menyandang gelar "Quthbul Aqthob, Ghouts", puncak spiritual tertinggi yang diraih seseorang, digaris perbatasan wilayah kenabian, diraih dengan sakit. Beliau menempati posisi puncak ini selama 40 tahun, dan selama itu pula beliau menderita demam dan sakit panas. (Kalau Imam Annawawi, penulis Kitab Monumental Riyadhus sholihin, menempati posisi tertinggi ini, 5 menit sebelum wafat. Jadi menempati posisi kewalian tertinggi, selama 5 menit. Khusnul khotimah).
Kembali pada pokok bahasan, bahwa sebenarnya "Sakit" itu, merupakan sekolah kehidupan tersendiri bagi tiap mu'min. Dan yang terbesar tentu saja adalah ingat mati, hal yang bisa membersihkan hati dari segala penyakitnya.
Akhir catatan, kebiasaan buruk santri, termasuk kadang aku lakukan juga, jika ingin bolos belajar, maka pura-pura sakit. Kirim surat ke petugas absen dengan tulisan pendek, "Afwan, Ta'ban". Nah, kalau udah gini, sering Guru kami mengancam seram, "Tamarodhu, fatamrodhu, fa tamutu", pura-pura sakit, ntar sakit beneran, ntar terus ko'it, baru tahu rasa kamu :D...
Catatan dari Diaryku (101) : PURA-PURA SAKIT :D
Share this
Related Articles :
Profil Penulis
Paling Dilihat
-
Doa Bahasa Jawa, Rahasia Dahsyatnya Kemantapan Hati - https://momen-ku.blogspot.co.id/ . Setiap pesantren, pasti memiliki ritual baca dzi...
-
Solusi Tekanan Batin Was Was Najis Wudhu dan Sholat - Momenku . Aku pernah mengalami fase kehidupan yang teramat susah. Susah bagi batin,...
-
Dahsyatnya Rahasia dan Manfaat Shalawat Rosululloh Muhammad Pesantren Sejuta Shalawat - Momenku . Setiap malam jumat, setelah sholat is...
-
Tips Menyikapi Rasa Kecewa Terhadap Apapun - Momenku . Setiap dari kita, pasti pernah mengalami kekecewaan. Dikecewakan oleh keadaan, dik...
-
Sebagai pribadi yang sejak lahir hidup dan tumbuh berkembang di area pesantren, tentu saja soal pergaulan antar lain jenis adalah hal yang s...
-
Beberapa waktu yang telah lalu, salah satu sahabat bertanya padaku soal teks hadits yang menyatakan bahwa wanita itu kurang akal dan kurang ...
-
Sepuing Kenangan dengan Sang Guru Besar Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki - Momenku . Catatan ini, adalah sepuing kenanganku bersama Guru ...
-
TKW di Pancung di ARab Saudi, Pandangan dan Solusi Terbaik Menurutku @ Hari ini tadi, saat aku online chat, banyak sahabat bertanya kepa...
-
Catatan terakhir dari diaryku kemarin bercerita tentang mellow-nya acara perpisahanku saat ber-PKL di Kepanjen, Malang. Waktu aku masih bel...
-
Memasuki bulan Rajab begini, selalu saja ada rasa bahagia dan ketenangan luar biasa yang tak bisa digambarkan, dan itu terbersit dalam diri ...
Label
- buku 1
- Catatan dari Diary 46
- Catatan Khusus 19
- cerpen 3
- Di Balik Ayat Suci 2
- Guruku 2
- In Memoriam 2
- Inspiratif 1
- intermezo 2
- Status FB 1